SEKILAS INFO
  • 11 bulan yang lalu / Selamat datang di situs website resmi Lazismu Batang
WAKTU :

Muhammadiyah di Era Milenial

Terbit 6 November 2020 | Oleh : lazismubatang | Kategori : Artikel
Muhammadiyah di Era Milenial

Oleh : H. Harto Setiyono, BA

Usia Muhammadiyah yang sudah seabad lebih dengan pencapaian prestasi organisasi yang luar biasa tidak boleh menjadikan pimpinan dan kadernya terlena. Hal ini antara lain karena segmentasi dakwah telah banyak berubah seiring dengan tumbuhnya generasi millenial. Situasi zaman sekarang berlangsung kacau. seolah bumi menjadi datar tanpa batas. Melalui telepon genggam, dunia ini hanya sekepalan tangan saja.

Generasi millenial, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh William Staruss dan Neil Howe merujukkepada anak manusia yang lahir diatas tahun 1980-an sampai dengan 1990-an. Populasinya menjadi terbesar di Indonesia pada beberapa tahun mendatang. Tahun 2020 jumlah usia produktif akan melonjak 50-60 persen. Jumlah usia produktif 15-35 tahun sudah mencapai angka 40 persen. Ini diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik hasil Surve Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)2014-2015 yang menunjukkan jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa dan jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 128,30 juta jiwa.

Generasi Net Remaja masa kini meminjam pemikiran Haidar Nashir Ketua PP Muhammadiyah selain memiliki orang tua biologis juga mempunyai orang tua Android. Karena ayah dan ibunya sibuk, maka anak lebih banyak diasuh oleh orang tua ideologis. Ini menghawatirkan, karena panutan mereka bergeserpada tontonan, gamer, dan produk teknologi lainnya, bukan pada orang tua atau guru. Mereka rentan dengan gangguan pada perkembangan kepribadian. Masalah ini pernah diungkapkan Don Tapsscott dalam Growing-up Digital: The Rise of the Net Generation, yang menyebutkan sejumlah permasalahan sosial dan kejiwaan bagi pengguna teknologi informasi komunikasi, khususnya remaja, dalam hubungan sosial dan dunia kerja. Remaja kehilangan kemampuan sosial, juga interaksinya dengan masyarakat.

Kepekaan sosial mereka rendah. Etika mereka menjadi kurang dan mereka rentan melakukan bullying (Suara Muhammadiyah No. 19, 1-15 Oktober 2017). Sebelumnya, Kuntowijoyo pernah memprediksi lahirnya Muslim tanpa masjid. Kini bukan hanya tanpa Masjid, bahkan tanpa ustadz. Ustadz yang mendalam ilmu pengetahuan agama Islam tersisih, dan perannya digantikan oleh ustadz selebriti yang diproduksi televisi, ustadz Google dan medsos yang kedalaman pengetahuannya diragukan, bagi yang tidak punya modal ilmu.

Era millenial membutuhkan kewaspadaan dalam membaca fenomena sosial. Kepada kita disajikan begitubanyak menubudaya. Apabila kita tidak kritis, maka kita mudah tertipu. Cangkang (aksidensi) dan isi (substansi) harus dikemas agar tidak bercampur-baur, sehingga tetap murni dan diisi oleh tauhid. Cangkang dan isi sering berbeda. Permainan simbolik lebih dominan dibandingkan makna sejati. Budaya “sinetron”, misalnya, yang penuh kepura-puraan. Karena memang demikianlah peran dalam skenario harus dilakukan. Postmodern melululantakkan sakralitas dan menjadi agama kehilangan makna, dangkal, dan kesemuanya seolah-olah nyata.

Dakwah Muhammadiyah sedari awal sudah berfokus pada berbagai ikhtiar memajukan kehidupan. Memberantas takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC) bukan sekedarpersoalan teologis (tauhid), tetapi juga menyiapkan umat yang berkemajuan. Pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sosial kemudian menjadi agenda besar yang melahirkan manusia tercerahkan. Identitas pembaruan Muhammadiyah terus meluas ke berbagai aspek kehidupan keagamaan. Namun yang harus menjadi catatan adalah bahwa lokomotif gerakan pembaruan itu dilakukan oleh anak muda. Jadi sejak awal Muhammadiyah itu lahir di kalangan muda yang visioner, melihat masa depan agama dan berikhtiar menjadi agama bukan sebagai batu peradaban, tapi sebagai api dan alat vital (energy hidup) peradaban.

Empat Langkah Strategis : Pembaharuan KH Ahmad Dahlan disambut suka-cita anak muda yang menjadi generasi awal. Kiai Fachrudin, Ketua Majelis Tabligh pertama, mengembangkan Muhammadiyah dari pengajian ke pengajian. Kiai Hisyam, Ketua Bidang Pustaka, mengembangkan Muhammadiyah lewat budaya literasi. Kiai Sujak mengembangkan Muhammadiyah melalui layanan sosial dan kesehatan. Fenomena seperti ini terjadi pula disetiap cabang Muhammadiyah sejak tahun 1927-1930, tatkala pada umumnya generasi mudalah yang tampil memimpin. Gerakan tajdid Muhammadiyah terbukti berhasil membaca tuntutan zaman dan memadukannya dengan nilai-nilai Islam dan kemuhammadiyahan. Spirit tajdid (dinamisasi dalam aspek muamalah) yang telah dilakukan generasi awal Muhammadiyah harus terus dikembangkan.

Bila generasi awal bertajdid membuka bagian pustaka, kini dakwah literasi menjadi kebutuhan. Agar tidak lahirgenerasi Muslim yang pengetahuan agamanya sepenuhnya dibimbing “Mbah Google”. Jika sanad terputus dan periwayatnya diragukan, makakualitas ilmu agamanya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Agar Muhammadiyah eksis bersama generasi milenial, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

 Pertama, penguatan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi). Lembaga pendidikan formal ini sangat strategis sebagai ujung tombak dakwah dan pengkaderan bagi generasi milenial. Ada waktu yang cukuppanjang untuk berkegiatan disekolah atau kampus. Jika tidak dioptimalkan, maka semaian nilai-nilai alIslam dan Kemuhammadiyahan akan hilang tanpa bekas.
 Kedua, gerakan jamaah dan dakwah jamaah dilingkungan keluarga harus diperkuat dengan memberikan sejumlah tuntunan dalam menghadapi era sekarang.
 Ketiga, penggunaan produk IT dengan berbagai programnya sudah menjadi kebutuhan. Dalam hal ini Muhammadiyah telah melakukannya dan harus terus dikembangkan mengingat potensi dakwah dan ekonominya yang besar.
 Keempat, pimpinan dan kader Muhammadiyah harus memanfaatkan medsos penuh TBC, kebencian dan kejumudan, tetapi isilah dengan penyebaran gagasan pengetahuan tentang al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Semakin banyakmenu yang ditawarkan, maka semakin dominan kita bisa menentukan alam pikiran zaman. Semakin kuat ide kemajuan yang mencerahkan disebabkan, maka semakin banyak manusia yang mengikutiperintah Tuhan. Dalam perubahan yang sangat cepat dan kacau, selalu ada alur yang bisa diikuti dan tetaplah mampu mengadaptasi. Menarilah dalam kekacauan, dengan identitas diri sebagai kader berkemajuan, dengan terus istiqomah mendakwah Islam melalui Muhammadiyah di era milenial Wallahu a’lam

SebelumnyaAksi Sosial Ditengah Pandemi SesudahnyaMemaksimalkan Peran Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Filantropi

Tausiyah Lainnya